Phitsulanok, Thailand: Low Carbon City

13 september 2016


Phitsanulok, Thailand

Deserving Initiative pada Guangzhou International Award 2014

Latar Belakang Informasi

Low Carbon City merupakan kebijakan dari pemerintah Phitsulanok, Thailand sejak tahun 1997 untuk menciptakan rasa tanggung jawab sosial bagi penduduknya. Pembangunan tersebut dapat dikatakan berhasil dalam semua sektor perkotaan terkait dengan manajemen lingkungan. Mereka meyakini bahwa partisipasi masyarakat merupakan kunci keberhasilannya. Pemerintah memulainya dengan menyaring ide, menjalin kerjasama dengan publik, membangun komunitas dan meningkatkan kepedulian masyarakat akan kotanya.

Tujuan dari Inisiatif

1.  Menjadi model perkotaan yang terintegrasi dengan low carbon city tahun 2019
2. Meningkatkan gerakan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle) dan praktik pemilahan sampah pada sumbernya melalui manajemen pengolahan sampah berbasis komunitas (Community Based Waste Management/CBM) hingga 40% di tahun 2019
3. Pada tahun 1996, pemerintah setempat sudah mengenalkan pengolahan sampah biologis secara mekanik (Mechanical Biological Waste Treatment/MBT). Dengan produk dari MBT adalah 50% Refused Drived Fuel (RDF). Pemerintah setempat menargetkan pencapaian zerowaste landfill di tahun 2017
4. Meningkatkan area hijau hingga 10m2 per kapita pada tahun 2022
5. Meningkatkan rasio penggunaan gas alam sebagai pengganti bahan bakar fosil untuk kendaraan hingga 20% di tahun 2019
6.   Membangun Measuring Reporting Verification (MRV) yang sistematis  untuk mengurangi efek gas rumah kaca di tahun 2017


Inovasi untuk inisiatif

Inisiatif pada pembangunan low carbon city yang terintegrasi dengan sistem (MRV) di Kotamadya Phitsulanok merupakan kebijakan yang berkesinambungan untuk meningkatkan kondisi lingkungan dan kesejahteraan hidup masyarakat. Berdasarkan pengalaman, saat ini kita bertanggung jawab pada dunia dan generasi di masa yang akan datang. Kotamadya Phitsulanok sudah memulai inisiatif low carbon city dimulai dari manajemen persampahan hingga akhirnya pemerintah setempat mendapatkan bantuan teknis dari GIZ Jerman, menjalin kerjasama dengan penduduk dan kebijakan tersebut masih berjalan hingga saat ini. Pemerintah setempat juga berhasil megembangkan aspek lingkungan yang lain seperti area hijau dan Community Based Management. Pada tahun 2006, pemerintah telah mengaplikasikan MBT sebelum tempat pembuangan akhir. Hal tersebut memperpanjang masa untuk penutupan tanah hingga tahun 2036 dan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 80%. MBT dapat membuat RDF yang memiliki kandungan kalori yang sama dengan batu bara. Pemerintah bekerjasama dengan SCI Eco Service Sale, Ltd untuk menggunakan RDF sebagai pengganti batu bara. Tahun 2013, pemerintah berencana untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sampah organik dan melakukan pengukuran, pelaporan serta verifikasi (MRV system) untuk menuju pembangunan low carbon city.

Keluaran dan Masukan

Hasil dari inisiatif pemeritah tersebut dapat dibagi kedalam beberapa aspek sebagai berikut:

•  Waste management: Pemerintah telah membuat model yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hinga 80% ketika dibandingkan dengan cara penutupan lahan konvensional dan 80% ketika menggunakan perspektif lifecycle (dengan menggunakan kalkulator IGES GHG).
•   Masyarakat, komunitas, dan stakeholder terkait lebih peduli terhadap masalah lingkungan. Sebagai gambaran, pemisahan sampah pada sumbernya meningkat hingga 25%
Untuk MRV pada emisi gas rumah kaca, pemerintah membangun sistem energi yang penggunaaannya dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan yang tepat dalam pembangunan lingkungan
Lebih dari 35 organisasi merupakan member dari jaringan yang menjual hasil daur ulang. Hal tersebut merupakan lapangan perkerjaan dan sumber pedapatan bagi penduduk
Area hijau meningkat dari 1m2 per kapita di tahun 1996 menjadi 6m2 di tahun 2014. Saat ini pemerintah juga sudah memiliki database mengenenai pohon
Penggunaan gas alam sebagai pengganti bahan bakar fosil untuk kendaraan pelayanan publik meningkat hingga 12% dari keseluruhan penggunaan energi
Pemerintah setempat memiliki rencana untuk membangun gedung ramah lingkungan dalam lingkungan pemerintahan dan memulai untuk menggunakan energi solar. Pemerintah merupakan contoh model bagi kota dan diharapkan dapat menjadi kota dengan emisi karbon terendah di ASEAN.

Sumber: Guangzhou Award 2014

From Twitter