Jabar Kerjasama Transportasi dengan Guangxi Zhuang

09 may 2017


Ilustrasi

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) menandatangani nota kesepahaman (MoU) pengembangan sistem dan alat transportasi massal dengan Provinsi Guangxi Zhuang, Republik Rakyat Tiongkok.

Guangxi Zhuang dinilai memiliki sistem transportasi yang sangat berkembang. Mulai dari industri otomotif,  pelabuhan terbesar di Tiongkok dan sudah beberapa kali mendorong peningkatan kapasitas pelabuhan di negara lain yang bekerja sama dengan mereka, serta kereta api cepat dengan jalur sepanjang 1750 km.

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan kerjasama Sister Province ini merupakan kelanjutan pertemuan mereka pada 26 Oktober 2015 lalu ketika gubernur Guangxi Zhuang, Chen Wu datang ke Delta Mas Bekasi, Jabar.

Selain  bidang transportasi, Jabar dan Guangxi Zhuang  juga akan menjalin kerja sama dalam  bidang pariwisata, pendidikan, budaya, perdagangan dan teknologi. "Mudah-mudahan (MoU) ini tonggak kerja sama dengan baik dan disusul kerja sama-kerja sama lainnya," kata Aher  sebelum penandatanganan nota kesepahaman.

Aher mengatakan, pihaknya mengagumi dengan perkembangan sistem transportasi di Guangxi Zhuang yang telah memiliki kereta cepat dengan jarak yang sangat jauh, sementara di Indonesia khususnya baru mau membangun kereta cepat tersebut.

Selain itu, kata Aher, pihaknya pun siap menjalin kerja sama dalam bidang informatika karena Jabar memiliki pakar-pakar tersebut. Dengan keterbukaan‎ sharing informasi dan teknologi tersebut diharapkan Jabar atau sebaliknya sama-sama bisa lebih maju.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedi Taufik mengatakan pihaknya akan menawarkan kerja sama pembangunan sejumlah pelabuhan di Jabar ke pihak Guangxi Zhuang. "Kita ada Pelabuhan Patimban, Pelabuhan Ratu Rehional Seaport, Cirebon, Seaport, Cikarang-Bekasi-Laut Inland Waterways, Bojong Salawe Regional Seaport, dan Palangpang Local di Ciletuh," katanya.

Menurut Dedi, Jabar juga akan menawarkan kerja sama pengelolaan transportasi bandara di Kertajati. "Misalnya kerja sama pengelolaan selama hitungan tahun. Itu harus dibicarakan lagi usai MoU ini," ujar Dedi.

Sumber: Berita Daerah, Republika, Tempo

 

 

From Twitter